Showing posts with label Fanfict. Show all posts
Showing posts with label Fanfict. Show all posts

SHINee fanfict part 5 : Me Love Him

    Annyeonghaseyo, naneun shawol immida! (Helo, I'm a shawol--fans of SHINee)

    I'm back :)
    Lama nggak posting fanfict. Maklum, pikiranku bercabang tiga (?). Banyak cerita yang harus aku buat. Konsentrasi terpecah. haduhh =_=

    Mesti buat cerita ini-lah, itu-lah, temanya pasti ditentukan. (yaiyalah!)
    Aku ga bisa kalo nulis yang temanya dibatasi. Aku menulis berdasarkan kehidupanku. Jika ada yang menarik, aku tulis. Kalo buat ikut lomba, biasanya jadinya ga bagus. =__=

    But, nothing's impossible. Aku pasti bisa. Aku memang bukan orang yang sempurna. Aku juga tidak lebih hebat dari teman-temanku. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin yang aku bisa. :)
    Hehe, jadinya curcol kepanjangan... :p

    so, this is it, Me Love Him part 5. 
    Enjoy! ^^
    ***

    Aku sudah di toko buku "Mochii-san" Ini selama limabelas menit. Aku memang diizinkan membaca buku disini. Tapi, pegawai berwajah galak memandangiku. Aku merasa tidak enak menumpang baca di toko buku stasiun dan diawasi olehnya.
    Aku beranjak dari tempatku membaca buku. Kuucapkan terimakasih pada pegawai toko berwajah garang yang terus memperhatikan gerak-gerikku beberapa menit lalu. Aku akan meninggalkan toko buku bergaya Jepang ini.

    "Arigato." Kataku pada pegawai itu. Sengaca kuucapkan terimakasih dengan bahasa Jepang, karena suasana toko buku ini benar-benar membuatku mearasa berada di Jepang.

    "Ya, ya. Lain kali beli bukunya ya!" Suara tajam dan pedas keluar dari mulut penjaga toko itu. Aku sedikit tak menghiraukannya. Kata-katanya sungguh memalukanku. Aku bergegas menuju pintu keluar.

    Ukh, aku menabrak seseorang lagi. Mungkin penglihatanku makin memburuk, ya? Dari tadi aku menabrakkan diriku.

    "Maaf" Dengan cepat permohonan maaf kuucapkan. Aku berdiri dan memunguti beberapa buku yang jatuh dari tas ranselku. Tidak ada respon dari orang yang kutabrak. Jangan-jangan yang kutabrak itu bukan orang, tapi tiang? Sungguh memalukan jika itu benar. Aku minta maaf pada tiang? Yang benar saja!

    Aku mengangkat mukaku, melihat siapa atau apa yang barusan kutabrak. Kulihat sosok lelaki jangkung berkaus hitam tanpa lengan sedang menatapku geram.

    Tiba-tiba suara seorang informan tedengar jelas dari speaker di sudut ruangan. Kereta yang aku tunggu akan tiba lima menit  lagi. Aku segera meninggalkan pria yang kutabrak tadi sambil membungkukkan badanku dalam-dalam, "Jeongmal Mianhabnida. Annyeonghaseyo."

    Aku bergegas menuju peron tiga. Dan benar saja. Setibanya di peron tiga, kereta sudah tiba dan beberapa penumpang memasuki kereta itu. Aku mempercepat langkah kakiku, semoga saja aku tidak ketinggalan kereta lagi.

    Syukurlah, aku tidak ketinggalam kereta lagi. Meskipun kereta penuh sesak, tetapi setidaknya aku pulang sebelum larut malam.

    ***

    Aku berjalan lemas dari stasiun hingga flat tempat aku tinggal. Lelah. Kulirik jam tanganku, pukul tujuh tigapuluh. Waktu cukup larut bagi pelajar SMA sepertiku baru pulang sekolah

    Brugh! Sepertinya aku menabrak sesuatu lagi. Babo. Bodoh sekali aku ini! Apakah penglihatanku memburuk? Sejak tadi aku terus menabrak seseorang.

    "oh, Ahjussi, Mianhabnida." Sekali lagi aku membungkukkan badanku dalam-dalam.
    Entahlah, aku tidak tahu sedah berapa kali aku membungkukkan badan dan meminta maaf seperti ini.

    "Ahjussi, huh? Memangnya aku terlihat setua itu?"

    "Eh?"

    Pria itu mendekatiku,  menunjukkan rambutnya yang jabrik, matanya yang besar, dan wajahnya yang jelas jauh dari usia tiga puluh. Ditambah lagi, sepertinya pria itu satu sekolah denganku, terbukti dari seragam olahraganya yang menunjukkan logo SMA Hyansang--meskipun tertutup jaket hitam, tetapi aku sempat melihatnya.

    "Aah, kurae. Jeongmal mianhabnida, sunbaenim"

    "Apakah minta maaf saja cukup? Lihatlah, kopiku tumpah. Bajuku sekarang kotor." Menyebalkan! Ucapannya kasar sekali. Ingin sekali aku melayangkan tinjuku ke pipinya. Tapi, kuurungkan niatku. Hal itu akan memperparah keadaan. Selain itu, memang aku yang salah.

    Kucoba menghaluskan nada ucapanku, "Jadi, apa yang harus kulakukan?"

    "Belikan kopi yang baru untukku" Jawabnya santai. Baiklah, bukan hal yang sulit. Minimarket hanya berjarak sepuluh kaki dari tempatku berada. Tetapi... malas juga. Memangnya siapa dia? Seenaknya saja menyuruhku layaknya pembantu.

    "Ya! Memangnya kau--" Kutarik ucapanku kembali. Sepertinya aku mengenal orang ini. Aku tahu ia satu sekolah denganku, sehingga wajahnya familiar di mataku. Tetapi, sepertinya aku mengetahuinya. Kutajamkan penglihatanku dan berusaha mengingat sekeras mungkin.

    Choi Minho! Ketua klub basket, namja paling top di sekolah.

    "Hmph. Payah sekali kau ini! Aku kan siswa paling dikenal di SMA Hyansang!"

    "Aku tahu. Aku baru menyadarinya. Maafkan aku."

    Choi Minho tersenyum sinis, "Sudah kubilang, permintaan maaf tak kuterima. kecualikau memenuhi perintahku!"

    "Jika tidak, apa yang akan kau lakukan? Ancamanmu tidak berlaku bagiku!"

    Sekali lagi ia memamerkan senyum sinisnya, "Kau tahu apa yang telah kau lakukan di kantin? Kau berduaan dengan Jonghyun. Aku akan menyebarkannya ke siswi-siswi agar kau dihajar karena berani mendekati idola mereka"

    "Memangnya  kau punya bukti?"

    Choi Minho merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Ia menunjukkan fotoku dan Jonghyun saat di kantin. Kami sedang tertawa. Sial benar anak itu! Kapan ia memotret kami?
    "Jdi, kau mau apa sekarang? Turuti perintahku atau kau mau seluruh siswi sekolah mengejarmu sebagai buronan?"

    Aaaisssh! Aku tak berkutik.

    "Baiklah, kuturuti perintahmu. Akan kubelikan kopi!" Dengan malas dan kesal kusanggupi perintah Minho.

    "Hey, siapa bilang kau hanya belikan aku kopi? Kau jug harus belikan aku seragam olahraga baru dan jaket baru."

    Apa? Benar-benar, dia ini orang yang menyebalkan! Padahal populer, tapi tingkah lakunya tidak seperti yang kubayangkan--cool, macho, ganteng, ramah, dan lembut. Bah! apanya? dia jauh dari kata "lembut" dan "ramah"

    "Hey, noda kopi bisa hilang dengan DICUCI! Kau tahu!?" Sengaja kutegaskan kata "dicuci".

    "Oh ya? Kalu begitu cucikan bajuku. aku tidak bisa mencuci."

    "Lalu, kenapa tidak kau cuci di laundry?"

    "Kalu begitu kau saja."

    "Aku tidak mau!"

    "Kalau begitu, kusebarkan foto ini"

    Ugh, dasar licik!

    "Baik, baik, kubelikan kopi dan kucucikan bajumu! Mana uangnya?"

    "Pakai uangmu."

    Mwo? Dasar licik! Kusumpahkan dia tak akan bertemu jodohnya hingga akhir hidupnya atau dia kalah di pertandingan dengan SMA Ganghyan bulan depan!

    "Aku tidak ada uang! Dasar kau!"

    "Aku tidak peduli. Apa kau mau foto ini kusebarkan?" KAtanya sambil menunjukkan foto aku dan Jonghyun . Dengan cepat kurebut ponsel itu dari tangannya, lari menjauh dari Minho sambil menghapis foto itu.

    "Ya! Ya! Apa yang kaulakukan?"

    Delete? OK. Beres. Foto dihapus.

    Aku tersenyum sambil menunjukkan ponsel yang kupegang kepada Minho.

    "Perjanjian batal"

    Kulempar ponsel itu, lalu memasang kasi seribu, berlari menuju flatku.

    ***

    Yaaay, part 5 selesai! ^^

    tunggu part 6 ya :D

    P.S : maaf kalo aku nempatin Choi Minho karakternya kayak gitu. Maaf banget. Bukannya aku mau ngejelek2in dia, tapi aku cuma mau konfliknya ya itu. Minhonya berantem sama aku (Jihye). Soalnya kalo mulus2 aja tanpa konflik, cerita itu nggak akan bagus.

    Terakhir, makasih udah baca.
    Selamat hari libur cuti bersama! :)  :D

Post Title

SHINee fanfict part 5 : Me Love Him


Post URL

https://guidice-galleries.blogspot.com/2011/05/shinee-fanfict-part-5-me-love-him.html


Visit guidice galleries for Daily Updated Wedding Dresses Collection

Me Love Him Part 4

    Annyeonghaseyo...! Aku hadir lagi... ^,^

    Part 4 udah datang..! Jreng jreng jreng....! *going crazy again*

     ***

    Eunjae melambaikan tangannya padaku melalui jendela bus berwarna hijau itu. Kami mengambil bis yang berbeda, karena memang rumahku dan Eunjae berbeda jurusan. Beruntung, begitu Jonghyun meninggalkan kami, bis nomor 78 langsung datang. Eunjae mendahuluiku. Dan kini, aku menunggu bis nomor 65 sendirian.


                Bosan. Lama sekali bis itu datang. Kuputuskan untuk menggambar saja, daripada aku duduk terbengong-bengong di halte ini sendirian. Mungkin saja tiba-tiba hantu penunggu halte akan mengagetkanku.


                Kukeluarkan scetchbook-ku dari dalam tas ransel hitam. G-penku juga kukeluarkan dari kotak pensil bergambar bugs bunny


                Aku melanjutkan menggambar  manga seorang lelaki sedang bermain basket. Ne. Choi
    Minho. Lelaki yang membuat para perempuan di sekolah ini menjadi gila. Meskipun aku belum pernah melihatnya bermain, tapi aku cukup hebat berimajinasi untuk itu.


                Sudah lewat duapuluh menit sejak aku menunggu sendirian di halte ini, namun bis yang kutunggu tak kunjung datang. Habis sudah kesabaranku. Aku bisa mati kutu di sini.
                Kumasukkan semua alat gambarku. Aku beranjak berdiri dan mulai berjalan menuju stasiun. Jaraknya lumayan dekat dari sini. Tidak ada salahnya mencoba. Kulihat jam tangan swatch-ku, pukul 6.15 sore. Aku yakin aku masih sempat menaiki kereta peron 3.

    *** 

    Aisssh, menyebalkan! Aku ketinggalan kereta. Itu artinya aku harus menunggu setengah jam lagi untuk kedatangan kereta berikutnya. Baiklah, setidaknya aku masih bisa melihat beberapa orang berlalu-lalang di sekitarku. Jadi, aku tidak mati kutu di sini. Berbeda dengan saat aku menunggu di halte. Menunggu satu menit sama dengan menunggu lima jam bagiku jika tak ada lawan bicara.

    Tapi, meskipun banyak orang disini, tetap saja tidak ada yang bisa kuajak bicara. Bosan. Kucoba mencari hal yang bisa menghilangkan kebosanan ini. 

    Toko buku! Yeah, aku memang tidak punya uang banyak saat ini. Aku memang tidak akan membeli satu buku pun. Aku hanya akan menumpang baca komik manga. 

    Dengan malas kulangkahkan kakiku ke arah jam tiga. Sedikit malas memang. Moodku sekarang tidak sebagus saat makan di kantin. 

    Kuhentikan langkah kakiku tepat di depan toko kecil bernama "Mochii-san". Toko buku berkesan Jepang. Buku-bukunya terbitan Jepang. Dan yang paling banyak adalah manga. Bagus. Aku pasti betah disini. Tapi itu jika aku boleh membuka segel komiknya.

    ***
    part 5 segera menyusul... terimakasih. ^^

Post Title

Me Love Him Part 4


Post URL

https://guidice-galleries.blogspot.com/2011/04/me-love-him-part-4.html


Visit guidice galleries for Daily Updated Wedding Dresses Collection

Me Love Him Part 3

    Annyeonghaseyo, I'm back! Hyahahahahahahaaa....! 

    Ehm, sorry I was going crazy. 

    Alright then, aku mau lanjutin fanfict SHINee "Me vs Love Him" 
    Enjoy reading! ^_^

    ***

    Sosok perempuan bertubuh atletis menatapku tajam. Eunjae. Gawat. Eunjae pasti marah padaku. Aku berpisah darinya saat akan melihat permainan basket Minho. Seharusnya aku menyusulnya, bukan tak mengacuhkan Eunjae dan berduaan dengan Jonghyun selama satu jam.

    "Jihye! Kau ini!"

    Eunjae menarikku. Ia membisikkan sesuatu ke telingaku, membuatku sedikit geli dan menahan tawa.

    "Dasar curang! kenalkan Jonghyun padaku dong!"

    Gubrak. Kukira Dia akan mencampakkanku gara-gara hal sepele itu. 

    "Hey, kau maruk juga. tadi kau segila itu demi Minho, sekarang kau minta kukenalkan pada Jonghyun." Jawabku  pada sahabatku. 

    Sedetik kemudian, aku dan Eunjae mendengar tertawaan lepas. Ne. tertawa yang membahana, keras  sekali. Kulirik lelaki di belakangku. Jonghyun. Ia sepertinya mendengar perkataanku barusan.

    "Ehm, Jonghyun! Jangan tertawa terus! Kuperkenalkan kau pada Eunjae." Kuberanikan mulutku bicara sambil menarik Eunjae di sebelahku

    "Ne. Je ireumeun Jonghyun-immida. Salam kenal."

    "Sa-salam kenal."

    Jonghyun tersenyum. Muka Eunjae semakin merah. Aneh. Padahal biasanya dengan percaya diri dia mengajak idolanya kencan atau memberi bekal buatannya. Sekarang tingkahnya seperti anak kecil yang bertemu manusia baru. Ada yang tidak beres.

    "Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" Aku berusaha memecah keheningan. Jonghyun kembali tersenyum. Kini aku tak seterkejut saat pertama kali melihat senyumnya. 

    "Pulanglah. Hari sudah sore." Jonghyun menepuk pundak Eunjae. Sekali lagi, ia tersenyum. 


    "Tenanglah, kita bisa bertemu lagi besok." 


    "Sebaiknya jangan. Para perempuan akan menghajar kita jika kita dekat denganmu." Aku menambahkan. 


    "Yah, kita lihat saja besok. Ngomong-ngomong, kalian mau kuantar?"


    "Anieyo, kita akan pulang naik..." Eunjae membungkam mulutku. Kemudian, ia menyetujui tawaran Jonghyun. Dasar Eunjae.

    "Hey, kita baru saja kenal Jonghyun. Kau ini!" Kataku setelah Eunjae melepaskan tangan kanan yang kekuatannya seperti baja dari mulutku.

    "Lebih buruk lagi kalau kita menolak tawaran pria berhati gula ini."


    "Tapi setidaknya, kau ini bukan wanita gampangan."


    Dan bla, bla, bla. kami terus berdebat. Jonghyun tidak berkata apapun, apalagi menengahi perdebatan tidak penting kami. Seperti biasa, Jonghyun hanya tertawa melihat kelakuan kami berdua.


    Akhirnya aku menurut pada Eunjae. Kami pulang diantar mobil Mercedez Benz Jonghyun. Aku dan Eunjae turun di halte. Meskipun aku bersedia diantar oleh pangeran dadakannya Eunjae, aku menolak diantar hingga rumah. Aku meminta Jonghyun menurunkan kami di halte.

    ***

    Enough. segitu doang part 3. thanks for read :)
    Bye.

Post Title

Me Love Him Part 3


Post URL

https://guidice-galleries.blogspot.com/2011/04/me-love-him-part-3.html


Visit guidice galleries for Daily Updated Wedding Dresses Collection

Me vs Love Him fanfict part 2

    annyeonghaseyo, nae shawol immida! ^^


    kali ni aku mau buat lanjutannya...! 
    okay, this is it : 


    Me vs Love Him  
    Part 2


    Kami sampai di kantin. Lelaki berambut pirang itu membeli dua gelas milkshake untuknya dan untukku.  


    "Jadi, kau sering kabur dari klub basket seperti ini?" Tanyaku


    "Ne. Aku tidak bisa main basket."


    Mataku terbelalak kaget. Sepertinya Jonghyun melihatku. Dia tertawa lepas. Jonghyun tak sadar bahwa saat ia tertawa aku begitu memperhatikannya. 


    "Kekekeke,  Tak usah seterkejut itu. Hahahaha...!" 



    "Ya! jangan menertawakan aku seperti itu!" Aku memukul pundaknya. 


    "Aigoo, aigoo, hentikan!" Katanya sambil tertawa. Aku membalas tawanya.


    Aku meneguk milkshake coklatku. Suasana hening sejenak. Namun berhasil dicaiekan oleh Jonghyun yang supel. Ia ganti bertanya padaku, "Jadi, namamu siapa?" 


    Aku membalas senyumnya, "Yu Jihye, kelas 10-3." Kulihat ia menganggukkan kepalanya dan ingin berkata sesuatu. namun, aku mencelanaya, "Dan kau Jonghyun, siswa kelas 10-2. Pemain cadangan basket pria."


    Kulihat wajah heran Jonghyun. Lalu ia membuka mulutnya, "Bagaimana kau tahu?" 


    Senyumku mengembang, disusul dengan wajah ingin tahu Jonghyun. 


    "Hei, kau namja terkenal ketiga di sekolah ini." 


    "Aku tahu itu." Kata Jonghyun ria sembari tersenyum lebar hingga mulutnya hampir robek.


    "Dasar sombong!" Ejekku padanya. tentu saja tidak serius.


    Obrolan terhenti sejenak. Kemudian aku teringat sesuatu. Hal yang dikatakannya saat di lantai dua, "Aku hanya pemain cadangan. Lagipula permainan basketku payah." dan tadi Ia sempat berkata, "Ne, aku tidak bisa bermain basket."


    "Jonghyun, Kau tidak bisa bermain basket?" Tanyaku hati-hati.


    "Ne." Jawabnya singkat sambil mengangguk.


    "Lalu kenapa kamu masuk klub basket?"


    Jonghyun hanya tersenyum. Ia menatapku tajam. Bodoh. Betapa malunya aku! wajahku merah padam.


    Setelah itu, Jonghyun tidak membahas apapun tantang basket. Obrolan terus mengalir, hingga aku melupakan sesuatu. sesuatu penting yang bahkan aku bisa lupakan.


    Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Eunjae. Ia pasti mencariku. Cepat-cepat aku menghabiskan milkshake coklatku dan pamit pada Jonghyun. Aku bangkit berdiri, berjalan menuju lapangan basket. Jonghyun mengejarku.


    "Ddo! Tunggu!"


    "Eung? Mianhaeyo, Aku harus pergi sekarang. Eunjae pasti mencariku."

    "Siapa Eunjae? Eodiro Kaseyo?" 

    "Sahabatku. Tadi ia mengajakku berlari ke lapangan basket untuk melihat permainan basket Minho, tapi aku tertinggal, dan ia terus berlari. Aku menuju ke lapangan basket."

    Kakiku berjalan cepat. padahal dalam hatiku, aku masih ingin bersama si supel berambut pirang.

    "Ya! Memangnya jam segini masih ada yang berlatih?"

    Aku menghentikan langkah panjangku. 

    "Memangnya jam berapa sekarang?"

    Jonghyun terdiam dan melihat jam tangan quartz di pergelangan tangan kirinya. 

    "Jam enam" Katanya singkat.

    "Mwo? Jadi kita menghabiskan waktu di kantin satu jam?"

    "Eung."  

    Gawat. Eunjae pasti bingung mencariku. Aku tak bisa membayangkan ia berputar mengelilingi SMA sebesar ini demi mencariku.

    "Tapi setidaknya aku harus mencari sahabatku."

    "A... Kurae.  Ayo kutemani. Hari sudah sore. Sekolah juga sudah sepi." Sarannya. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati!

    "Baiklah. Ayo." Aku berbalik. Jantungku hampir copot. Sosok perempuan bertubuh atletis menatapku penuh kekesalan. Eunjae. Tampaknya ia kesal melihatku berduaan dengan Jonghyun. 

    ***

    End. Gimana? kayaknya agak alay. Tapi gapapa. :p
    Part 3 menyusul... tapi kayaknya ga bisa aku buat hari ini. I'm tired! Heah.

    well, thanks for read this fool fanfict.  xp

    at last, see ya! ^__^ 
     

Post Title

Me vs Love Him fanfict part 2


Post URL

https://guidice-galleries.blogspot.com/2011/04/me-vs-love-him-fanfict-part-2.html


Visit guidice galleries for Daily Updated Wedding Dresses Collection

SHINee fanfict : Me V.S. Love Him

    Anyeonghaseyo, shawol immida! ^.^
    Yes. I'm a big fans of SHINee. 


    habis liat pikunya biasku, jadi pingin buat fanfictnya.
      
    judul : Me vs Love Him
    by : Isnanda Elok Hapsari, @elokisnanda (twitter, follow aku ya? ntar ak folback! ^^)
    disini minho oppa jadi laki-laki populer di sekolah karena macho, cool, ganteng. Banyak perempuan di SMA suka sama dia. Di lain sisi, Minho itu jadi preman di dekat apartemenku. 


    okay, let's check it out! 
    enjoy! :)


    Me V.S. Love Him 

    Part 1 
    "Jihye! Ayo ke lapangan basket laki-laki! Ada Minho tuh!" Seru Eunjae, sahabatku yang cerewet. 

    "Seongmal? Ayo!" Dengan tanggap kami berdua meninggalkan sanggar seni dan melangkah menuju lapangan basket pria. Masa bodoh dengan klub seni rupa. Yang penting aku dan Eunjae bisa melihat ketampanan dan keahlian Minho bermain basket. 

    Kami berdua berlari menuju lapangan basket. Jarak yang cukup jauh untuk berlari dari tempat kami berlatih menari di lantai dua menuju lapangan basket. Napasku memburu. Sungguh, aku haus sekarang. Ingin rasanya aku meneguk air satu galon. 

    Aku tak kuat berlari. Langkahku terhenti di sudut tangga. Aku berteriak memanggil nama Eunjae, namun tak bergeming. Yang terlihat hanya punggung Eunjae. Dia meninggalkanku. 

    Aku berjalan perlahan penuh putus asa. Aku memegang dinding pembatas lantai dua. Kulihat para pemain basket sedang memainkan bola oranye. Dan para perempuan riuh menyoraki laki-laki idola mereka. 

    Pikiranku melayang sejenak. Bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tak mau kembali ke klub seni. Aku pasti akan kena marah Myunghyo Sunbaenim karena melarikan diri saat istirahat tanpa izin. Kembali ke kelas dan pulang? Ide buruk. Eunjae akan bingung mencariku dan aku akan mati kering di jalan. Pergi ke kantin dan membeli minuman? Mungkin itu lebih baik, meskipun aku sendirian. 

    Aku berbalik. Tiba-tiba jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Jonghyun. Pemain cadangan klub basket. Laki-laki kedua klub basket terpopuler meskipun, ehm, permainannya payah. Tapi wajahnya yang ceria, penuh senyuman, dan supel yang membuatnya dikagumi banyak perempuan.





    "Kau melamun. Kukira kau akan bunuh diri karena kau berdsandar di situ dan terus melihat ke bawah. Aku berniat menepukmu, tapi kau malah berbalik. Mianhae telah membuatmu kaget." Kudengar penjelasan panjang lebarnya. Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala. Padahal mungkin kepala berambut pirang itu tidak gatal.

    "Ah, tidak apa-apa." Jawabku singkat.

    "Oh ya, mengapa kau melamun? Ada masalah?" 

    "Anieyo, Amuildo anieyo. Hanya masalah kecil tak usah dipikirkan." Aku tak mau meceritakan kejadian konyolku ke Jonghyun. Bisa-bisa dia menertawaiku.

    "Oh. Ya sudah. Annyeonghikaseyo!" Jonghyun melambaikan tangannya dan memamerkan senyumnya padaku. 

    "Tunggu!" Seruku. Lelaki berambut pirang itu pun menoleh ke arahku.

    "Eung? Mworago?"

    Bodoh. Memanggilnya kembali dan melihat senyumnya membuatku salah tingkah. Wajahku semerah kepiting rebus. Tapi aku memberanikan diri membuka mulut

    "Kau tidak ke lapangan basket? Latihan basket sudah dimulai."

    Ia tertawa. Membuatku gugup setengah mati. 

    "Tidak. Aku hanya pemain cadangan. Lagipula, permainan basketku payah. Memalukan jika ditonton para siswi" Jawabnya santai.

    "Oh, ne." Aku menganggukkan kepala. Padahal aku sudah tahu hal itu. Kemudian, aku bertanya lagi, "Eodiro kaseyo?"

    Lelaki itu tersenyum. Sedetik kemudian ia berkata, "Kantin. Ayo." 

    Lengannya yang kuat menarik pergelangan tanganku tanpa bertanya persetujuanku. Jantungku berdegup kencang. Sayang Eunhye tidak bersamaku saat ini.

    ***

    End. Ini masih part1 lho, nanti klimaksnya masih banyak lagi! part 2 nyusul secepatnya. ^,^

    Well, thanks for read. :) 
    Annyeonghikaseyo! \(^0^)/  

Post Title

SHINee fanfict : Me V.S. Love Him


Post URL

https://guidice-galleries.blogspot.com/2011/04/shinee-fanfict-me-vs-love-him.html


Visit guidice galleries for Daily Updated Wedding Dresses Collection

Popular Posts

My Blog List